Friday, January 7, 2011

Kalau hidup itu adil...

This post may be a bit offensive, but please let me share my thought openly this time. And it's a very long post. Besides, I just want to remind myself when I re-read it in the future.

Hidup itu benar-benar nggak pernah adil. Berapa kali pun harus merenungkannya, aku selalu sampai pada kesimpulan kalau Life is never fair.

Some people may ask: life is not fair but, compared to what?

And I answered easily, "Compared to everything except death."

Itu nggak salah, kan? Mungkin setiap orang punya persepsi yang berbeda-beda tentang kehidupan. Bukannya aku nggak mau mendengar pendapat mereka, hanya aja aku yakin dengan pandanganku sendiri kalau hidup itu memang nggak pernah adil.

Kalau hidup adil, kenapa masih banyak masyarakat kalangan bawah yang menderita di luar sana, berkerja banting tulang demi sesuap nasi walau hasil akhirnya tetap saja nihil? Mereka nggak bisa mendapatkan apa yang mereka mau. Mereka hidup luntang-lantung di jalanan, berharap datangnya keajaiban.

Coba perhatikan, di bagian lain di suatu kota, di dalam sebuah mansion mahal yang kelihatan mewah. Seorang pejabat besar sedang angkat-angkat kaki, berleha-leha sambil berpangku tangan, sedangkan uang terus mengalir masuk ke dalam kantongnya, tanpa melakukan apapun. Maksudku, tanpa melakukan sesuatu yang benar-benar berarti dan berguna. Well, mungkin menurutnya dia udah bekerja keras dengan cara korupsi dan memoroti uang rakyat demi kepentingan keluarganya sendiri.

Intinya, apa yang seperti itu adil? Coba hubungkan secara perlahan. Masyarakat kalangan bawah yang mati-matian membanting tulang. Lalu di sisi kehidupan yang lain, ada seorang pejabat, salah, ada banyak orang kalangan atas yang makan dengan uang orang lain, bersenang-senang dengan kemewahan yang didapatkannya dengan cara kotor. Adilkah itu?

Kalau hidup memang adil, tolong tunjukkan padaku, dimana letak keadilannya? Mungkinkah cuma aku, orang buta yang nggak bisa melihat letak keadilannya? Atau sebenarnya hidup itu adil hanya aja orang-orang yang tinggal di dalamnya nggak bisa bersikap adil? Entahlah.

Ada lagi, jangan kaitkan masalah bencana alam dengan topik yang kubicarakan ini. Bencana alam nggak ada kaitannya. Banjir, longsor, tsunami, gempa bumi atau segala jenis fenomena-fenomena alam nggak ada hubungannya dengan adil atau nggaknya dunia. Bukan manusia yang mengontrol bencana alam. Tapi kalau masalah kehidupan, perjuangan dalam sesuap nasi, masalah harta gono gini, itu murni kesalahan manusia. Ada nggak manusia yang nggak suka uang? Yang nggak buta pada harta kekayaan, yang matanya nggak berubah warna ketika melihat uang? Menyedihkan memang, tapi kenyataannya bukan manusia yang mengendalikan dunia. Tapi dunia yang mengendalikan manusia. Memprihatikan, ya?

Another case, aku nggak pernah bilang kalau semua masyarakat kalangan atas hidup dari uang hasil korupsi, ya. Jangan salah paham. Kumohon.

Coba pikirkan kasus yang satu ini. Berapa banyak orang kaya raa yang masih rendah hati dan mau membagikan bagian kecil dari keberuntungannya untuk orang-orang yang kurang beruntung? Dan coba lihat lagi berapa banyak orang yang kehidupan ekonominya di atas rata-rata, tapi berlagak seolah mereka-lah pengusa dunia yang merasa berhak atas makhluk yang lebih lemah? BERAPA BANYAK?

Aku menemukan banyak sekali species makhluk seperti ini. Mereka kaya-raya, sangat kaya bahkan, punya beratus-ratus PT di luar sana, punya beribu-ribu karyawan yang hidup dari gaji pemberiannya, tapi sayangnya mereka punya lagak selangit, lupa akan Penciptanya, memamerkan harta kekayaannya pada seluruh makhluk di muka bumi, menganggap rendah orang lain dan menginjak-nginjak masyarakat kurang mampu. Seakan lupa daratan, mereka nggak pernah lagi mengenal kata syukur, asyik membual ke semua orang kalau mereka habis berkeliling dunia sambil menenteng emas batangan berton-ton beratnya dan pamer kalau mereka punya beratus-ratus jenis berlian dan batu safir langkah.

Aku bukannya merasa iri dengan jenis orang seperti itu. Aku justru merasa kasihan. Aku nggak sekaya mereka. Aku nggak punya emas batangan. Aku nggak pernah keliling dunia. Aku nggak pernah menyentuh berlian asli. Karena itu aku nggak punya sesuatu yang bisa dibualkan pada orang lain, jadi di sisi lain aku juga bersyukur aku nggak se-"bonjour" mereka.

Makanya sekali lagi kutekankan. Kalau hidup itu adil, kenapa masih ada orang yang berkerja keras banting tulang tapi tetap hidup melarat? Kalau hidup itu adil, kenapa para pejabat yang korupsi, merugikan rakyat, malah bisa menikmati kehidupan yang begitu mewah tanpa rasa bersalah sedikit pun? Kalau hidup itu adil, kenapa masih ada orang kaya raya yang lupa daratan dan nggak kenal bersyukur?

Jadi, kalau ada yang mengajukan pernyataan, Life is never fair, pertanyaannya bukannya compared to what, tapi, "WHY"?

Satu lagi, kalau ada pembohong keji atau koruptor yang bilang bahwa mereka berbuat curang dan keji (mereka nggak sadar mereka berbuat salah) masih aja ngotot dan keuh-keuh kalau mereka sedang melakukan yang terbaik, tanyakan pada mereka.

Terbaik untuk siapa?

Nah, untuk menjawab pertanyaan "why" di atas, aku udah menemukan jawabannya.

Life is never fair because of us, human beings. Humans are too greedy and too selfish. Manusia yang membuat semuanya jadi kacau balau. Manusia diberi otak dan perasaan untuk berpikir dan merasakan, tapi manusia nggak pernah memanfaatkannya dengan baik.

Karena itu aku harus ingat, kalau sesekali aku merasa hidup itu nggak adil, bukan Tuhan yang harus kusalahkan, tapi diriku sendiri.

Dan kalau suatu hari nanti aku sukses, aku kaya raya, aku hidup berkecukupan, ingatkan aku membaca ulang post ini. Tolong ingatkan aku, karena aku nggak mau jadi species orang yang kutulis di atas, yang lupa daratan, yang lupa arti bersyukur, yang merendahkan orang yang kurang beruntung.

Please remind me to read this if someday I lose my brain and forget everything about God.

~ASa~

No comments:

Post a Comment